Assalamualaikum, Mama…
Sudah lama rasanya tidak berjumpa dengan Mama.
Seorang wanita hebat yang menjadi tempat semangatku
menggapai asa.
Seorang wanita yang sangat aku banggakan akan
kesabaran hatinya.
Seorang wanita yang selalu aku peluk dengan doa-doa
indahku.
Dan aku pun seorang wanita biasa.
Yang tak sepenuhnya mengerti perasaanmu, juga tak sepenuhnya utuh menjadi wanita yang hebat.
Yang tak sepenuhnya mengerti perasaanmu, juga tak sepenuhnya utuh menjadi wanita yang hebat.
Saat pesan yang aku terima, Mama ingin aku kembali
berkumpul seperti dahulu.
Beteng air mataku ambruk,
Namun mulutku masih tetap bisu untuk berkata yang
sedemikian nyata,
Karena aku tak mau menyakiti hatimu, Mama…
Duhai Mama…
Aku sangat paham dia adalah seorang anak laki-laki yang lahir dari rahim sucimu,
Engkau pertaruhkan hidupmu untuk memilikinya,
Anak kesayanganmu yang sepanjang hidupnya engkau rawat dengan segenap rasa cintamu.
Duhai Mama..
Aku sangat tau, betapa besar rasa cintamu untuknya,
Tangan renta Mama yang mengangkat tubuh mungilnya, menyuapinya, menghapus air matanya dan memeluknya dalam dekapan Mama,
Tapi aku tidak mau merebutnya dari dekapanmu, Mama...
Duhai Mama…
Aku sangat paham dia adalah seorang anak laki-laki yang lahir dari rahim sucimu,
Engkau pertaruhkan hidupmu untuk memilikinya,
Anak kesayanganmu yang sepanjang hidupnya engkau rawat dengan segenap rasa cintamu.
Duhai Mama..
Aku sangat tau, betapa besar rasa cintamu untuknya,
Tangan renta Mama yang mengangkat tubuh mungilnya, menyuapinya, menghapus air matanya dan memeluknya dalam dekapan Mama,
Tapi aku tidak mau merebutnya dari dekapanmu, Mama...
Duhai Mama…
Aku sangat tau betapa bangga engkau memiliki putra
sepertinya,
Yang selalu membuatmu tersenyum haru,
Dia yang takkan pernah sekalipun melukai hatimu, Mama…
Ketahuilah Mama…
Aku takkan merebut semua perhatiannya darimu,
keberadaanku, takkan membuatnya berpaling darimu,
Aku takkan merebutnya...
Aku berusaha menjadi penyejuk hatinya,
Karena kelak dia akan datang padaku dalam kegundahan hatinya, untuk mencari kesejukan.
Aku berusaha memberi pelukan yang hangat baginya, karena engkau ingin hatinya selalu hangat dalam dekapku.
Kan ku berikan tutur kata seindah embun,
Karena engkau tak mau dia mendengar kata-kata kasar dalam hidupnya.
Yang selalu membuatmu tersenyum haru,
Dia yang takkan pernah sekalipun melukai hatimu, Mama…
Ketahuilah Mama…
Aku takkan merebut semua perhatiannya darimu,
keberadaanku, takkan membuatnya berpaling darimu,
Aku takkan merebutnya...
Aku berusaha menjadi penyejuk hatinya,
Karena kelak dia akan datang padaku dalam kegundahan hatinya, untuk mencari kesejukan.
Aku berusaha memberi pelukan yang hangat baginya, karena engkau ingin hatinya selalu hangat dalam dekapku.
Kan ku berikan tutur kata seindah embun,
Karena engkau tak mau dia mendengar kata-kata kasar dalam hidupnya.
Duhai
Mama…
Aku ingin menjadi sahabatmu,
Agar kelak, dapat ku curahkan rasaku padamu.
Aku ingin menjadi rekanmu,
Agar kita bisa bersama-sama mencintai lelaki yang sama-sama kita cintai.
Mama...
Aku berharap kau pun akan mencintaiku…
Aku ingin menjadi sahabatmu,
Agar kelak, dapat ku curahkan rasaku padamu.
Aku ingin menjadi rekanmu,
Agar kita bisa bersama-sama mencintai lelaki yang sama-sama kita cintai.
Mama...
Aku berharap kau pun akan mencintaiku…
Meski pada akhirnya dunia tidak menerima kesatuan kita.
04 Februari 2015,
Rabu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar