Rabu, 28 Januari 2015

Hidup = Terima & Renungan



Kamis, 29 Januari 2015

Hidup = Terima & Renungan

Terima saja jika hati yang kau perjuangkan sekarang telah dipangkuan orang.
Terima saja jika raga yang kau peluk erat sekarang telah memeluk orang.
Terima saja jika senyum yang kau harapkan sekarang telah dinikmati orang.
Terima saja jika semua yang telah kau usahakan sekarang telah disemogakan orang.
Terima saja…

Ambil nafas panjang, hembuskan pelan…
Ceritakan pada angin, pada langit, pada matahari, pada Tuhan.
Bahwa semua yang pernah kau lakukan telah dilakukan oleh orang yang bersama dia.
Hirup saja aroma bahagianya, rasakan dan ikutlah bahagia.
Tuhan tidak pernah ingkar dengan janji-Nya.
Ambil nafas panjang, hembuskan pelan…
Bersyukurlah waktu pernah mempertemukanmu dengan dia.
Senyumlah yang lebar kenangan manis itu tidak akan pernah menjadi debu yang sia-sia.
Tuhan selalu punya cara agar kau lebih dewasa.
Ambil nafas panjang, hembuskan perlahan…
Renungkanlah,
Bisa jadi orang yang sekarang telah bahagia bersamanya dulunya pernah terluka sepertimu.
Bisa jadi juga orang yang sekarang telah menikmati angin cintanya dulunya pernah berjuang hingga mat-matian.
Bisa jadi pula orang yang sekarang telah diatas puncak istananya dahulunya pernah tersungkur sepertimu.

Hidup itu seperti roda, selalu dan akan tetap berputar hingga Tuhan yang ingin menghentikannya.
Dewasalah dengan segala luka, obatilah dengan selalu berdoa kepada Tuhan.
Karena tidak akan ada yang bisa dibanggakan dengan merebut kebahagiaan orang.
Hanya hati yang tuluslah yang dapat mencintai secara diam-diam.
Teruslah untuk maju dan tunjukan bahwa hidupmu memang berkualitas.
Akui saja semua salahmu, dan bangun untuk manusia yang lebih baik lagi.
Ingat, Tuhan selalu punya takdir yang beralasan.
Terimakasih telah bersedia tinggal dan akhirnya meninggalkan mimpi.


**Dari seseorang yang selalu menganggapmu “UCUP”

Selasa, 20 Januari 2015

Januari ini seperti Januari lalu…



Rabu, 21 Januari 2015                     10:10 WIB


Hampir empat belas hari aku berjalan tanpa sapaanmu lagi, tanpa hadirmu, tanpa kecupan selamat pagi, tanpa pelukan semangat darimu. Hampir empat belas hari aku habiskan waktuku untuk terus berjalan. Aku ikuti saja alur hidup dari Tuhan. Tanpa harapan, tanpa cita-cita, dan tanpa rencana. Iya, aku memang masih sendu. Luka yang dihatiku masih lebam dan sangat sulit untuk aku cari obatnya. Keluarga, teman dan orang-orang terdekat tak henti memberi semangat. Hanya bisa aku balas senyum palsu dan kata terimakasih. “Maaf.” Kataku dalam hati, karena aku belum bisa sepenuhnya untuk berjalan mulus lagi. Setiap malam aku habiskan dengan memutar video yang sengaja aku buat untukmu. Aku kirimkan lewat aplikasi Whatsapp pukul 23:54 WIB. Lalu terkirim dan kamu baca, kurang lebih tiga jam tepat pukul 03:24 WIB kamu membalas pesanku. Hanya kata “Terimakasih untuk waktu kita, terimakasih semuanya..maaf..maaf..” sembari dengan emotikon “cry” dan “smile”. Kebetulan atau memang rencana Tuhan yang indah aku pun bangun pada pukul tersebut, selesai berserah diri pada Sang Maha Kuasa aku membacanya. Iya, bukan tangisan lagi yang aku ekspresikan tapi senyuman dan hati yang rindu. Kau tau, semua hal tentang kamu memang masih rapi dalam memoryku. Entahlah, aku ini perempuan tolol yang mendambakan sosokmu atau aku sedang kasmaran dengan mu.

Januari ini rasanya seperti Januari lalu, bukankah Januari tahun lalu kau juga menghubungi perempuan itu? Yang tak lain orang masalalumu. Bukankah itu yang membuat aku cemburu, lalu kau putuskan untuk berhenti berkomunikasi dengannya karena tak ingin pertengkaran kecil kita hanya karena disebabkan olehnya? Kau bilang padaku jika kau ingin teruskan hidup serta harapanmu denganku? Sepercaya itu hingga aku mampu menyerahkannya padamu. Delta…hampir semua kata-katamu aku ingat betul. Saat itu aku yang salah atau memang kau berniat untuk berbohong kepadaku? Jawab! Tuhan selalu ciptakan takdir dengan alasan, bukan karena kebetulan. Lantas mengapa sekarang kini kau bersama perempuan itu? Jika katamu malam itu hubungan ini kandas bukan karena perempuan itu, tapi karena sikapku? Lalu, sikapku yang seperti apa? Apakah masih pantas untuk aku bertanya dan memperbaikinya? Apakah masih pantas aku berlari untuk memperjuangkanmu? Sedangkan kini aku tau, bahwa hatimu memang terarah untuk perempuan itu.

Dupuluh empat bulan itu memang tak bernilai di dalam hidupmu. Delta…Kenapa kau tawarkan uluran tangan? Jika yang kau ciptakan pelepasan tangan serta tangisan. Aku sungguh tak ingin menyalahkanmu. Iya, bukan salahmu untuk pengabaian ini, tapi karena aku yang sangat terlena oleh musim yang sebenarnya bukan milikku, melainkan musim untuk perempuan itu. Apa iya aku harus menyalahkan perempuan itu? Tidak, aku tidak seperti itu. Percayalah. Aku tidak akan berbuat arogan, karena aku tau hati memang tak pernah bisa untuk diajak berbohong.

Kau Tanya ikhlas padaku? Tentu saja aku jawab “Tidak.”, tak usah kau banyak bertanya tapi lihatlah apa yang aku perjuangkan selama duapuluh empat bulan lalu? Apa masih kau ragukan bahwa aku sedang bermain-main di dalam komitmen itu? Pelajari saja setiap detik waktu kita. Semoga Januari ku ini tidak akan pernah terjadi pada perempuanmu dan perempuan lainnya. Aku tidak ingin hati perempuan terluka seperti halnya hatiku. Karena kau tau Delta, perempuan itu hatinya sangat lembut, meski kadang mereka berubah menjadi monster saat cemburu dan marah namun dibalik semua itu perempuan punya alasan untuk perubahanmu lebih baik. Pahami saja, waktu itu adalah proses. Semoga Tuhan selalu menjagamu. Aku mencintaimu, Delta…

Kamis, 15 Januari 2015



They say there is a reason. They say that time will heal, but neither time nor reason will change they way I feel. For no-one knows the heart ache that list behind our smiles, no one knows how many times I have broken down and cried. I want to tell you something, so there won't be any doubt. You're so wonderful to think of, but so hard to be with you.

And the pain never goes away...

Kamis, 15 Januari 2015



Takdir begitu berat untuk aku terima di awal Tahun ini.
Diawali dengan munculnya perempuan masa lalu itu, hadirnya teman yang hanya ngaku-ngaku teman, datangnya masalah hingga membuat karirku sedikit rumit.
Tuhan…
Setegar apa aku, aku pun tak tau. Sekuat apa aku, aku pun juga tak peduli.
Hanya setiap sepertiga malam aku selalu terbangun dan menangis. Berusaha menelan semua ini hanya cobaan agar aku lebih layak lagi untuk menikmati hidup. Butir-butir air mata menetes hingga membasahi kain yang menutupi auratku untuk bersimpuh kepada Tuhan. Ku teteskan setiap cerita hidupku, hatiku menjerit, sakit Tuhan untuk semua penerimaan ini. Bahkan aku hampir saja tidak sanggup untuk menelan takdirku ini.
“Entahlah”, kata yang selalu aku ucapkan ketika aku telah mengingatnya semua. Sejahat apa aku? Sesalah apa aku? Akupun tak tau. Kata-kata yang malam itu kau lontarkan padaku, aku masih mengingat setiap iramanya. Kau bilang aku kekanak-kanakan, kau bilang aku tidak pantas, dan kalimat terakhir aku masih ingat  dan itu membuatku beropini bahwa semua proses yang kita jalani dulu itu hanyalah pelarian semata atas rasamu yang masih menggebu terhadap perempuan itu. Paham, sangat paham. Aku bisa apa? Bukankah dari awal juga seperti ini sikap dan sifatku. Apa kau pura-pura tuli dan buta? Atau pura-pura hilang ingatan? Selucu ini ya perjuanganku? Sebegitu mudahnya kau melupakannya, tertawa bersama perempuan itu. Apa yang kau tau tentangku? Seolah semua yang kita jalani semua itu hanya bayangan. Sakit Del, sakit. Lalu setelah aku tau semuanya ini, aku bisa apa? Menggenggam erat tanganmu? Memeluk tubuhmu? Masih pantas untuk itu ku lakukan semua? Jawab Del, jawab!
Apa arti tangisan di malam itu? Semua yang terbukti menjadi pertanyaan besar di otakku. Penuh, sesak, dan mulai memberati. Dulu kau lah orang pertama yang berdiri tegar di sampingku, menghapus setiap air mata kecewaku yang jatuh. Aku tidak menyesal Del, tidak. Aku hanya sedikit kecewa atas perlakuanmu terhdapku. Semurahan itu aku sampai aku seperti sampah.
“Del, kamu itu bukan orang yang aku inginkan dalam hidupku. Tapi kamu itu orang yang aku butuhkan dalam hidupku, dalam setiap proses, dalam setiap harapan, dan dalam setiap impian panjang. Aku salah ketika aku mengajakmu berlari dan tertawa. Aku salah ketika aku memberimu segala yang aku punya. Seharusnya tubuh yang kau peluk, bibir yang kau kecup dan doa yang kau panjatkan bukan aku, tapi perempuan itu. Iya kan? Aku hanyalah bayangannya saja dan perempuan itu hidup di dalam hatimu. Ini bukan soal kekalahnku, namun soal bodohnya aku sampai terlena dua puluh empat bulan ini karena masa lalumu. Del, jangan hapus semuanya, biarkanlah kenangan-kenangan kita mati dengan sendirinya. Semoga Tuhan selalu memberkatimu.”

Minggu, 11 Januari 2015



Senin, 12 Januari 2015

Genap seminggu tanpa hubungan denganmu…

Hallo Ucup, gimana kabarnya? Begitu pagi tadi setelah ku bersujud dengan Allah sambil berkaca. Seperti sebelumnya, ucup memang membuat pagiku lebih semangat karena setiap selesai ujian kuliah seperti ini, aku memintanya untuk bertemu. Lucu memang, setiap perjalan kisahku aku bagi dengannya. Paling lucunya lagi tanpa ekspresi yang jelas dia selalu mendengarkan dan memberiku komentar. Oh..Tuhan aku benar-benar merindukannya.
Pagi ini beda, aku memang sekarang agak terbiasa untuk bangun tiap subuh. Menceritakan syukur dan imipanku pada Tuhan. Selalu dan selalu masih sama tentangmu dan impianmu yang aku ceritakan. Tuhan enggak pernah bosan mendengarnya. Iya, aku tau itu. Bahkan sering kali Tuhan tersenyum karena begitu antusiasnya aku bermimi memakai gaun yang sangat anggun di acara itu lalu ku pandangi wajahmu yang datar serta ku pandangi kedua orang tuaku, orang tuamu. Mereka ada di dalam sana. Tertawa hangat seakan cerita drama.
Oiya ucup, sekarang aku kehilangan lagi satu orang yang aku percaya. Aku memang manusia yang tak bisa hidup sendirian. Selalu dekat dengan seseorang untuk aku ajak berbagi cerita hidupku. Kamu bahkan lebih tau aku kan? Cup, masih ingatkah kamu saat itu aku menangis karena orang yang nyata tidak memilihku ke jalan hidupnya. Sekanak-kanaknya aku sampai kamu bosan mendengarkan setiap curhatanku. Hahahaha…kamu pasti dulu mikir bodohnya aku ya? Ya seperti itulah cup, entah apa yang menjadi alasan tepat setiap laki-laki selalu meninggalkan aku. Bahkan kali ini aku benar-benar menyerah untuk mengenal laki-laki lagi Cup.

Aku merindukan Ucupku, Tuhan…
Aku merindukan disampingnya…
Aku merindukan dekapannya…
Aku merindukan setiap tawa yang tercipta…

Teruntuk Ucup Orang Tidak Jelasku…
“Maafkan aku Cup, sebahagia itu aku bersamamu hingga aku lupa bahwa kau juga bisa saja pergi dengan rasa bosanmu. Sebahagia itu juga aku sampai terhanyut bahwa kau masih punya hati yang ingin kau perjuangkan. Entah harus aku beri kau hadiah apa untuk rasa terimakasih dan bersalahku karena telah masuk dalam rasa mu bersama wanita itu. Cup, satu hal yang harus selalu kamu ingat bahwa aku benar-benar cinta pada semua yang ada dalam dirimu…”